Bangsa yang besar bukanlah yang hanya cinta akan dirinya dan sukunya sendiri diatas perbedaan orang lain, Namun bangsa yang besar adalah mereka yang dapat menjaga kebaikan dalam perbedaan antara suku, Bahasa dan Ras Kebangsaan. Indonesia sendiri telah merdeka sejak 72 tahun lamanya dan menjadi salah Negara yang paling berhasil dalam dalam menjaga tenun perbedaan bangsa ini dalam balutan Demokrasi, salah satu kunci akan keberhasilan itu adalah adanya kata “Toleransi” salam perbedaan Agama, suku, Bahasa dan Ras bangsa Indonesia itu sendiri. Namun akhir-akhir ini sepertinya kata itu mulai dipertanyakan oleh sekelompok orang tertentu, mungkinkah bangsa ini akan mampu menjaga kata “Toleransi” ini hingga 10 Tahun lamanya lagi, atau mungkin ada yang berpendapat lebih ekstrim lagi, Mungkinkah bangsa ini akan mengulang sejarah perpecahan kebangsaan ini, dimana akan berdirilah masing-masing sekelompok Golongan tertentu yang tidak akan mencintai lagi perbedaan dan akan berkarakter Cinta hanya pada golongannya saja lalu kemudian membenci golongan yang atau bahkan akan kembali terjadinya perang antar sekelompok golongan tertentu demi hanya untuk mempertahankan golongan masing-masing. Sekali lagi kita perlu bertanya pada kita masing-masing jika ini benar-benar terjadi maka apakah telah siap untuk menghadapi itu semua, apakah kita telah memiliki banyak rasa pengorbanan untuk menjadi pelaku dalam perpecahan itu nantinya?, Sekali lagi bangsa ini telah banyak belajar dari banyak konflik internal antara suku dan bangsa di Negara Kesatuan Republik ini, lihatlah bagaimana di Daerah Poso sana, belajarlah dari seperti apa yang terjadi di Daerah Aceh sana? Cukuplah itu menjadi pembelajaran besar bagi kita semua agar kita tetap bisa menjaga tenun Demokrasi dan Toleransi kita diantara sesame Rakyat bangsa yang besar ini. Saya ingin sedikit diantara kita semua ini menarik benang merah apa yang terjadi pada bangsa akhir-akhir ini, dengan mengutip salah satu mantan Presiden Republik ini yakni “Gus Dur” yang juga kita kenal sebagai Bapak Toleransi di Indonesia, beliau pernah berkata seperti ini “Jika anda membenci orang lain karena dia tidak bisa membaca Al-qur’an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Al-qur’an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi Moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya, dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk, karena begitulah Allah” mari kita telaah bersama dan kita resapi jangan sampai selama ini ternyata kita terlalu sibuk akan pembangunan citra kita dan merasa paling benar diantara golongan lain dan menyingkirkan orang lain dengan alasan bahwa andalah yang paling benar. Ingatlah selalu akan satu hal bahwa bangsa ini bisa bersatu dan merdeka bukan karena kita ini semuanya sama dan satu warna tapi justru sebaliknya karena adanya Perbedaan itulah yang kemudian membuat kita semua bisa Bersatu, seperti kata Bapak “Jusuf Kalla” pada saat saya ingin mendamaikan Aceh, ada orang Arab ikut bersamaku, saya tanya “Kenapa ingin Ikut?” lalu orang Arab itu bilang “saya ingin kasih tau orang aceh, bahwa anda masih beruntung daripada kami orang Arab, di tanah Arab Bahasa cuman satu,warna kulit hamper semua sama, Agama sama, budaya sama tapi kami pecah sampai 18 Negara, Kalau Indonesia ada 300 bahasa, maacam-macam warna kulit dan Agama tapi masih tetap bisa bersatu” maka Bahagialah kita sebagai bangsa Indonesia. Toleransi bisa berarti sikap terbuka dan saling menghormati terhadap perbedaan. Sikap itu hendaknya ditanamkan sejak dini pada anak, untuk menghindari konflik. Masyarakat Indonesia yang beragam dari berbagai aspek, membutuhkan sikap toleransi untuk menjaga keutuhan. Meskipun tak dipungkiri kenyataan munculnya konflik di berbagai daerah akibat perbedaan tersebut. Hal itu menjadi isyarat pentingnya mengajarkan sikap toleransi kepada anak sejak dini. Sebenarnya, arti kata toleransi adalah sikap terbuka dan menghormati perbedaan. Meski kaitan toleransi lebih sering pada perbedaan suku dan agama. Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotipe yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap. Anak dapat diperkenalkan konsep tentang toleransi sejak dini, yaitu pada sekitar usia empat tahun. Sebelum mencapai usia tersebut, bukan berarti anak tidak akan sama sekali menyerap berbagai contoh atau mengetahui nilai-nilai toleransi tersebut. Sejak usia satu tahun, alam bawah sadar anak dapat menyerap contoh yang dilakukan oleh orangtua dan orang-orang disekelilingnya. Namun pada usia dua tahun, sebagian besar anak masih cenderung memiliki sifat egosentris. Artinya, anak menganggap bahwa dirinya adalah segalanya. Yang membuat mereka sulit berbagi atau belum bersedia bermain dengan orang lain. Disinilah peran penting orangtua peran dalam menanamkan nilai toleransi kepada anaknya. Terutama, menstimulasi anak agar dia siap menerima keberadaan orang lain. Secara bersamaan, juga menanamkan karakter toleran terhadap orang lain yang berbeda dari dirinya. Banyak orangtua yang hidup dalam komunitas yang beragam dan memiliki teman-teman yang memiliki perbedaan asal-usul, jenis kelamin, agama, dan sebagainya. Mengajari toleransi pada anak-anak, sebaiknya dimulai dari sikap orangtua yang menghargai perbedaan-perbedaan itu dengan baik, yaitu dengan menjadi diri mereka sendiri, tanpa sikap yang dibuat-buat. Lingkungan rumah dan sekolah memegang peranan penting dalam mengembangkan toleransi beragama. Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui anak bersifat heterogen maka anak dapat memahami perbedaan agama dan kebiasaan yang dilakukan masing-masing agama.Terutama, anak-anak di masa depan dihadapkan dengan era globalisasi yang mengharuskan mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. Sehingga, pemahaman keragaman merupakan hal penting bagi masa depan anak-anak. Apalagi kelak jarak antarnegara dan benua sudah semakin dekat berkat kemajuan teknologi. Seperti peraturan lain, toleransi harus diajarkan dengan cara yang bijak. Meskipun anak belum bisa bicara, mereka biasanya melihat dan meniru perilaku orangtuanya. Anak-anak, usia berapa pun, akan engembangkan kemampuan mereka dengan mencontoh perilaku dan penghargaan dari orang-orang yang dekat dengan mereka. Ada beberapa tips yang perlu kita perhatikan dalam memberikan pendidikan Toleransi pada Anak usia dini yang akan saya bahas satu persatu: Pertama Memperlihatkan secara nyata contoh sikap Toleransi Sebagai orang tua yang tinggal di lingkungan perumahan memungkinkan pertemuan dengan para tetangga dengan budaya, agama, dan kebiasaan yang beragam. Bergaul dan selalu menghargai satu sama lain akan memberi contoh bertoleransi yang baik pada anak. Kedua Memberikan contoh sebagai Orangtua yang dapat mengajarkan toleransi dengan memberikan contoh-contoh dengan cara mereka sendiri. Membicarakan tentang toleransi dan sikap menghargai akan membantu anak memahami nilai apa yang ingin Anda tanamkan pada diri mereka. Ketiga Hati-hatilah dalam berbicara dan Ingatlah bahwa anak-anak selalu mendengar perkataan Anda. Jadi, hati-hatilah jika membicarakan kebiasaan orang-orang yang berbeda dengan diri Anda. Meskipun hanya candaan, ini akan terserap pada pikiran si anak dan dapat memengaruhi sikapnya. Keempat Cermat dan pintar dalam memilih bahan bacaan, selalu Ingatlah pengaruh media sangat besar dalam membentuk perilaku anak. Fokuskan pembicaraan dengan anak mengenai pandangan negatif (stereotype) yang tidak adil dan mungkin terpapar di media seperti film dan cerita-cerita pada buku. Kelima Jawablah secara jujur pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kebiasaan beragama dan berbudaya yang berbeda harus dijawab dengan jujur dan mencerminkan sikap menghormati. Keenam Berilah kesempatan anak untuk bermain dan beraktivitas dengan orang lain yang berbeda dengan diri mereka. Misalnya ketika memilih sekolah, tempat berlibur, atau penitipan anak, carilah tempat yang populasinya beragam. Jika orangtua mengajarkan toleransi pada anak sejak dini, mengajari cara menghargai orang lain, serta menunjukkan model perilaku memperlakukan orang lain secara baik, niscaya anak akan menanamkan sikap yang sama seiring perkembangannya.
Bangsa yang besar bukanlah yang hanya cinta akan dirinya dan sukunya sendiri diatas perbedaan orang lain, Namun bangsa yang besar adalah mereka yang dapat menjaga kebaikan dalam perbedaan antara suku, Bahasa dan Ras Kebangsaan. Indonesia sendiri telah merdeka sejak 72 tahun lamanya dan menjadi salah Negara yang paling berhasil dalam dalam menjaga tenun perbedaan bangsa ini dalam balutan Demokrasi, salah satu kunci akan keberhasilan itu adalah adanya kata “Toleransi” salam perbedaan Agama, suku, Bahasa dan Ras bangsa Indonesia itu sendiri. Namun akhir-akhir ini sepertinya kata itu mulai dipertanyakan oleh sekelompok orang tertentu, mungkinkah bangsa ini akan mampu menjaga kata “Toleransi” ini hingga 10 Tahun lamanya lagi, atau mungkin ada yang berpendapat lebih ekstrim lagi, Mungkinkah bangsa ini akan mengulang sejarah perpecahan kebangsaan ini, dimana akan berdirilah masing-masing sekelompok Golongan tertentu yang tidak akan mencintai lagi perbedaan dan akan berkarakter Cinta hanya pada golongannya saja lalu kemudian membenci golongan yang atau bahkan akan kembali terjadinya perang antar sekelompok golongan tertentu demi hanya untuk mempertahankan golongan masing-masing. Sekali lagi kita perlu bertanya pada kita masing-masing jika ini benar-benar terjadi maka apakah telah siap untuk menghadapi itu semua, apakah kita telah memiliki banyak rasa pengorbanan untuk menjadi pelaku dalam perpecahan itu nantinya?, Sekali lagi bangsa ini telah banyak belajar dari banyak konflik internal antara suku dan bangsa di Negara Kesatuan Republik ini, lihatlah bagaimana di Daerah Poso sana, belajarlah dari seperti apa yang terjadi di Daerah Aceh sana? Cukuplah itu menjadi pembelajaran besar bagi kita semua agar kita tetap bisa menjaga tenun Demokrasi dan Toleransi kita diantara sesame Rakyat bangsa yang besar ini. Saya ingin sedikit diantara kita semua ini menarik benang merah apa yang terjadi pada bangsa akhir-akhir ini, dengan mengutip salah satu mantan Presiden Republik ini yakni “Gus Dur” yang juga kita kenal sebagai Bapak Toleransi di Indonesia, beliau pernah berkata seperti ini “Jika anda membenci orang lain karena dia tidak bisa membaca Al-qur’an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Al-qur’an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi Moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya, dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk, karena begitulah Allah” mari kita telaah bersama dan kita resapi jangan sampai selama ini ternyata kita terlalu sibuk akan pembangunan citra kita dan merasa paling benar diantara golongan lain dan menyingkirkan orang lain dengan alasan bahwa andalah yang paling benar. Ingatlah selalu akan satu hal bahwa bangsa ini bisa bersatu dan merdeka bukan karena kita ini semuanya sama dan satu warna tapi justru sebaliknya karena adanya Perbedaan itulah yang kemudian membuat kita semua bisa Bersatu, seperti kata Bapak “Jusuf Kalla” pada saat saya ingin mendamaikan Aceh, ada orang Arab ikut bersamaku, saya tanya “Kenapa ingin Ikut?” lalu orang Arab itu bilang “saya ingin kasih tau orang aceh, bahwa anda masih beruntung daripada kami orang Arab, di tanah Arab Bahasa cuman satu,warna kulit hamper semua sama, Agama sama, budaya sama tapi kami pecah sampai 18 Negara, Kalau Indonesia ada 300 bahasa, maacam-macam warna kulit dan Agama tapi masih tetap bisa bersatu” maka Bahagialah kita sebagai bangsa Indonesia. Toleransi bisa berarti sikap terbuka dan saling menghormati terhadap perbedaan. Sikap itu hendaknya ditanamkan sejak dini pada anak, untuk menghindari konflik. Masyarakat Indonesia yang beragam dari berbagai aspek, membutuhkan sikap toleransi untuk menjaga keutuhan. Meskipun tak dipungkiri kenyataan munculnya konflik di berbagai daerah akibat perbedaan tersebut. Hal itu menjadi isyarat pentingnya mengajarkan sikap toleransi kepada anak sejak dini. Sebenarnya, arti kata toleransi adalah sikap terbuka dan menghormati perbedaan. Meski kaitan toleransi lebih sering pada perbedaan suku dan agama. Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotipe yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap. Anak dapat diperkenalkan konsep tentang toleransi sejak dini, yaitu pada sekitar usia empat tahun. Sebelum mencapai usia tersebut, bukan berarti anak tidak akan sama sekali menyerap berbagai contoh atau mengetahui nilai-nilai toleransi tersebut. Sejak usia satu tahun, alam bawah sadar anak dapat menyerap contoh yang dilakukan oleh orangtua dan orang-orang disekelilingnya. Namun pada usia dua tahun, sebagian besar anak masih cenderung memiliki sifat egosentris. Artinya, anak menganggap bahwa dirinya adalah segalanya. Yang membuat mereka sulit berbagi atau belum bersedia bermain dengan orang lain. Disinilah peran penting orangtua peran dalam menanamkan nilai toleransi kepada anaknya. Terutama, menstimulasi anak agar dia siap menerima keberadaan orang lain. Secara bersamaan, juga menanamkan karakter toleran terhadap orang lain yang berbeda dari dirinya. Banyak orangtua yang hidup dalam komunitas yang beragam dan memiliki teman-teman yang memiliki perbedaan asal-usul, jenis kelamin, agama, dan sebagainya. Mengajari toleransi pada anak-anak, sebaiknya dimulai dari sikap orangtua yang menghargai perbedaan-perbedaan itu dengan baik, yaitu dengan menjadi diri mereka sendiri, tanpa sikap yang dibuat-buat. Lingkungan rumah dan sekolah memegang peranan penting dalam mengembangkan toleransi beragama. Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui anak bersifat heterogen maka anak dapat memahami perbedaan agama dan kebiasaan yang dilakukan masing-masing agama.Terutama, anak-anak di masa depan dihadapkan dengan era globalisasi yang mengharuskan mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. Sehingga, pemahaman keragaman merupakan hal penting bagi masa depan anak-anak. Apalagi kelak jarak antarnegara dan benua sudah semakin dekat berkat kemajuan teknologi. Seperti peraturan lain, toleransi harus diajarkan dengan cara yang bijak. Meskipun anak belum bisa bicara, mereka biasanya melihat dan meniru perilaku orangtuanya. Anak-anak, usia berapa pun, akan engembangkan kemampuan mereka dengan mencontoh perilaku dan penghargaan dari orang-orang yang dekat dengan mereka. Ada beberapa tips yang perlu kita perhatikan dalam memberikan pendidikan Toleransi pada Anak usia dini yang akan saya bahas satu persatu: Pertama Memperlihatkan secara nyata contoh sikap Toleransi Sebagai orang tua yang tinggal di lingkungan perumahan memungkinkan pertemuan dengan para tetangga dengan budaya, agama, dan kebiasaan yang beragam. Bergaul dan selalu menghargai satu sama lain akan memberi contoh bertoleransi yang baik pada anak. Kedua Memberikan contoh sebagai Orangtua yang dapat mengajarkan toleransi dengan memberikan contoh-contoh dengan cara mereka sendiri. Membicarakan tentang toleransi dan sikap menghargai akan membantu anak memahami nilai apa yang ingin Anda tanamkan pada diri mereka. Ketiga Hati-hatilah dalam berbicara dan Ingatlah bahwa anak-anak selalu mendengar perkataan Anda. Jadi, hati-hatilah jika membicarakan kebiasaan orang-orang yang berbeda dengan diri Anda. Meskipun hanya candaan, ini akan terserap pada pikiran si anak dan dapat memengaruhi sikapnya. Keempat Cermat dan pintar dalam memilih bahan bacaan, selalu Ingatlah pengaruh media sangat besar dalam membentuk perilaku anak. Fokuskan pembicaraan dengan anak mengenai pandangan negatif (stereotype) yang tidak adil dan mungkin terpapar di media seperti film dan cerita-cerita pada buku. Kelima Jawablah secara jujur pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kebiasaan beragama dan berbudaya yang berbeda harus dijawab dengan jujur dan mencerminkan sikap menghormati. Keenam Berilah kesempatan anak untuk bermain dan beraktivitas dengan orang lain yang berbeda dengan diri mereka. Misalnya ketika memilih sekolah, tempat berlibur, atau penitipan anak, carilah tempat yang populasinya beragam. Jika orangtua mengajarkan toleransi pada anak sejak dini, mengajari cara menghargai orang lain, serta menunjukkan model perilaku memperlakukan orang lain secara baik, niscaya anak akan menanamkan sikap yang sama seiring perkembangannya.
